Kasmin Pratama

DEPAN | PROFIL | GALERY | HANDPHONE | TELEKOMUNIKASI | BUTONKOE | KRITIK & SARAN | HUBUNGI

Jembatan CDMA dan GSM

SUATU hari di Indonesia pelanggan CDMA maupun pelanggan GSM/GPRS tidak dapat dibedakan lagi, akibat adanya konvergensi antara CDMA 2000 dengan GSM. Hal ini juga didukung bahwa ponsel untuk CDMA 2000 maupun GSM/GPRS cenderung memiliki bentuk dan model yang sama.

Saat ini Indonesia merupakan salah satu dari 24 negara yang telah memiliki jaringan wireless generasi ketiga di dunia. Jaringan wireless generasi ketiga telah ada di Indonesia dengan diperkenalkannya produk Telkomflexi yang menggunakan teknologi CDMA 2000-1X oleh PT Telkom. Jaringan dengan teknologi yang sama juga akan digelar oleh Indosat, Mobile-8, dan Ratelindo dalam waktu dekat, serta WIN dengan versi CDMA 2000 EV-DO (data only) yang hanya khusus untuk aplikasi data saja.

Bagaimana hal ini dapat terjadi adalah dengan melakukan konvergensi antara operator GSM dengan operator CDMA atau cukup oleh operator GSM saja dengan sedikit penambahan komponen akses CDMA. Konvergensi yang terjadi dilakukan dengan penggabungan jaringan CDMA dengan jaringan GSM dengan sebuah sistem media yang berfungsi untuk mengkonversikan protokol dari masing-masing jaringan, sehingga keseluruhan jaringan tersebut disebut GSM1x.

Sebenarnya GSM1x adalah suatu solusi bagi operator GSM untuk loncat menuju operator selular generasi ketiga (3G). GSM1x merupakan teknologi dengan pemanfaatan jaringan GSM sebagai jaringan utamanya dan penggunaan BTS (base transceiver station) CDMA 2000-1x sebagai interface ke ponsel pelanggan. Teknologi ini dikembangkan oleh Qualcomm, sebuah perusahaan besar Amerika yang memiliki lisensi CDMA untuk semua aplikasi yang menggunakan CDMA termasuk 3G.

GSM1x diperuntukkan bagi operator GSM yang ingin menggelar aplikasi 3G namun memiliki keterbatasan baik dari segi dana investasi maupun bandwidth operasi. Untuk penggelaran 3G, operator GSM harus menyiapkan investasi bagi penyediaan bandwith sebesar minimal 10 MHz dan ini harus menggunakan pita operasi baru direntang pita UMTS (sebuah versi GSM untuk 3G). Karena itu, dibutuhkan tambahan biaya untuk mendapatkan band UMTS ini, yang diperoleh dengan cara lelang yang dilakukan oleh regulator.

Dengan telah adanya jaringan GPRS yang di- gelar oleh seluruh operator selular di Indonesia, maka pada dasarnya operator GSM yang ada memiliki opsi dalam hal penggelaran 3G, yaitu: Pertama dengan melakukan penggelaran EDGE (enhance data rate for global evolution) namun harus menunggu sampai akhir tahun 2004 atau lebih, di mana diperkirakan jaringan EDGE dan ponsel mulai diluncurkan secara komersial oleh pabrikan.

EDGE dapat digelar pada band eksisting yang dimiliki operator GSM saat ini namun perlu beberapa BTS GSM baru yang memiliki kemampuan untuk menerima sinyal ponsel dengan kemampuan EDGE.

Selain itu, ponsel yang dimiliki pelanggan ha- rus memiliki kemampuan dualmode GSM/ EDGE atau lebih cenderung ke ponsel tri-mode GSM/GPRS/EDGE. EDGE akan menggunakan frekuensi yang ada yang akan menurunkan kapasitas GSM yang ada saat ini untuk rentang frekuensi yang dimilikinya dan sedikit menurunkan performansi jaringan GSM. Sebagai gambaran untuk menyediakan layanan EDGE dengan data kecepatan 288 Kbps per sektornya dalam lebar band frekuensi 10 MHz harus mengorbankan kapasitas sebesar 42 persen dari total kapasitas GSM yang ada saat ini.

Opsi kedua, seperti telah disebutkan sebelum- nya adalah dengan mengikuti lelang band UMTS dan menggelar WCDMA (wideband - CDMA pita lebar) yang membutuhkan ponsel dengan kemampuan tri-mode. GSM/GPRS/WCDMA. Opsi ini butuh investasi yang jauh lebih besar dibandingkan EDGE dan ponsel dengan kemampuan di atas masih belum diketahui kapan mulai menjadi komersial.

Di Eropa sendiri seperti yang diutarakan oleh banyak analis, pemapar teknologi dan berita bisnis di surat kabar, operator selularnya berada dalam masalah besar. Ini karena investasi yang cukup tinggi untuk memenangkan lelang spektrum 3G, di samping juga problem teknis dalam infrastruktur WCDMA.

Opsi ketiga adalah dengan melakukan penggelaran GSM1x pada band GSM yang ada saat ini dengan ponsel CDMA 2000-1x yang saat ini telah tersedia di pasaran bagi pelanggan yang tidak membutuhkan roaming ke luar layanan CDMA 2000. Atau ponsel dengan kemampuan dua mode CDMA/GSM bagi pelanggan yang membutuhkan roaming.

Untuk penggelaran GSM1x ini perlu dilaku- kan pembebasan 1,23 MHz rentang frekuensi GSM yang ada untuk digunakan oleh CDMA 2000-1x yang memiliki kemampuan kapasitas data sampai dengan 350 Kbps atau CDMA 2000-1xEV-DO sampai dengan 1.500 Kbps. Cara lain adalah dengan menggunakan frekuensi di mana CDMA 2000-1x dapat beroperasi, misalnya pada frekuensi 800, 900, 1800, 1900, dan 2100 MHz.

GSM1x tadi akan menggabungkan kelebihan GSM yang cukup andal dalam aplikasi-aplikasinya dan kelebihan CDMA yang memiliki kapasitas lebih besar dan efisien dalam operasi frekuensinya. Opsi ketiga ini kelihatannya memiliki keuntungan lebih dibandingkan dua opsi sebelumnya, baik dari segi time to market maupun dari segi biaya investasi.

Time to market berarti bahwa kapan pun operator GSM ingin beralih ke GSM1x maka saat ini juga mulai tersedia di pasaran baik ja- ringan maupun ponselnya, yang tidak terjadi pada penggelaran EDGE atau WCDMA. GSM1x pertama kali didemonstrasikan saat 3GSM World Congress tahun lalu di Cannes, Perancis, pada Februari 2002 dengan kemampuan data sampai dengan 153 Kbps dan telah siap sebanyak 92 juta chip CDMA 2000-1x sebagai komponen utama ponsel dan BTSnya sampai dengan Maret 2003.

Bahkan Maret tahun ini, Samsung Electronic yang merupakan pemasok ponsel dan jaringan CDMA 2000 di Indonesia siap untuk membuat ponsel multimode GSM1x dengan kemampuan pada layanan GSM dan CDMA 2000-1x, dengan menggunakan chip CDMA 2000-1x terbaru MSM6300. Selain Samsung, pabrikan lain yang menyatakan mendukung teknologi GSM1x ini adalah Kyocera, Nortel Networks, Sanyo, Spatial Wireless, TCL Mobile, dan Winphoria Networks.

Biaya investasi memiliki arti bahwa operator GSM yang ingin beralih ke GSM1x dapat mela- kukan investasi untuk BTS CDMA 2000, dan cukup melakukan penambahan komponen GSM1x mobile switching node tanpa melakukan modifikasi apa pun pada jaringan GSM yang ada. Di samping itu, pilihan lainnya adalah dengan melakukan penambahan GSM1x global getaway dan melakukan kerja sama dengan operator CDMA tanpa perlu adanya modifikasi jaringan yang ada, baik GSM maupun CDMA 2000. Secara keseluruhan biaya investasi relatif kecil karena seluruh komponen jaringan yang ada tetap dapat dipergunakan.

Tidak demikian bila beralih ke EDGE atau WCDMA, mayoritas komponen perlu diganti dengan yang baru termasuk ponsel yang baru. Dengan kenyataan ini, maka ke depan dapat mendorong konvergensi antara jaringan GSM/ GPRS Telkomsel ke jaringan CDMA 2000 Tel- kom atau konvergensi jaringan GSM/GPRS IM3/Satelindo dengan jaringan CDMA 2000 Indosat, mengingat operator telekomunikasi tersebut saat ini memiliki keduanya baik jaringan GSM maupun CDMA 2000.

Dengan mulai diperkenalkannya ponsel CDMA 2000 dengan menggunakan kartu SIM seperti pada GSM, yang pada CDMA 2000 dike- nal dengan nama RUIM (removable user identi- ty module) maka hal ini menjadi pendorong konvergensi menuju GSM1x. Karena slot pada RUIM sama dengan slot pada kartu SIM maka pelanggan dapat saja menggunakan ponsel CDMA 2000-1x yang memiliki slot ini dan mema- sukan kartu SIM GSM, sehingga dapat diguna- kan sebagai ponsel GSM1x dengan beberapa software upgrade secara otomatis dari operator GSM atau CDMA saat pertama kali dihidupkan.

Operator yang telah menerapkan GSM1x adalah China Unicom, operator terbesar kedua di Cina yang saat ini memiliki 61 juta pelanggan GSM dan sekitar 8 juta pelanggan CDMA yang ditargetkan 21 juta akhir tahun ini. Percobaan telah dimulai kuartal kedua 2002 untuk melihat performansi dan kemampuan roaming baik CDMA dan GSM dengan GSM1x ini.

Cina merupakan negara dengan pelanggan selular terbesar di dunia dengan total pelanggan sebesar 206 juta saat ini, melampaui Amerika. Bayangkan jumlah ini hampir sebesar jumlah penduduk di Indonesia.

Selain itu, grup Vodafone juga melakukan percobaan dan mereka punya GSM/GPRS di Eropa dengan bendera Vodafone, dan memiliki juga CDMA di Amerika dengan bendera Veri- zon. Tampaknya mereka ingin menjajaki roaming antara keduanya tanpa perlu penggantian ponsel.

Bagaimana Telkom yang memiliki GSM dengan bendera Telkomsel dan CDMA dengan bendera TelkomFlexi, dan juga Indosat yang memiliki GSM dengan bendera IM3/Satelindo serta CDMA? Kita tunggu saja bagaimana operator GSM menyikapi kemunculan GSM1x ini, apakah teknologi ini akan membuat tidak terjadinya kanibalisme pelanggan antara CDMA 2000 atau GSM.

Operator saat ini khawatir akan terjadinya perpindahan pelanggan GSM yang tidak membutuhkan roaming ke CDMA 2000. Selain itu, beberapa sebagian pelanggan GSM memilih fasilitas itu dan hanya membutuhkan jasa teleko- munikasi suara, data, dan faks tetapi jaringan kabel tidak tersedia di lokasinya.

Kelompok ini dapat dengan mudah beralih ke CDMA 2000 yang menawarkan tarif lebih murah selain menyediakan sekaligus fasilitas selular dan fasilitas PSTN.

<<<Kembali